BANUACONNECT.COM, LOKAL – Terminal Petikemas (TPK) Banjarmasin bersama Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Hubla) Kementerian Perhubungan, menggelar Exercise International Ship and Port Facility Security (ISPS) Code Tahun 2026, sebagai upaya memperkuat ketahanan operasional dan meningkatkan kesiapsiagaan seluruh pemangku kepentingan dalam menghadapi ancaman keamanan di lingkungan pelabuhan.
Kegiatan yang diselenggarakan Ditjen Hubla tersebut melibatkan tim Recognized Security Organization (RSO) Ditjen Hubla, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Banjarmasin, Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan Laut, serta tim internal TPK Banjarmasin yang terdiri atas personel keamanan, operasional, teknologi informasi, dan tim Business Continuity Management System (BCMS).
Exercise mengangkat tema penanganan gangguan keamanan berupa penumpukan antrean truk kontainer, akibat terganggunya sistem elektronik layanan pelabuhan yang disebabkan serangan siber (ransomware) di TPK Banjarmasin. Skenario tersebut disusun mengacu pada ketentuan ISPS Code Part A dan Part B serta Port Facility Security Plan (PFSP).
Melalui simulasi tersebut, para peserta menguji efektivitas koordinasi, komunikasi, dan pengambilan keputusan dalam menghadapi gangguan yang berdampak terhadap layanan operasional pelabuhan. Skenario dimulai dari terindikasinya gangguan pada sistem perencanaan dan gate operation yang menyebabkan antrean truk kontainer di area terminal, sehingga memerlukan respons terpadu dari unsur keamanan, operasional, teknologi informasi, hingga tim BCMS.
Terminal Head TPK Banjarmasin Sirin Purnomo mengatakan, pelaksanaan Exercise ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam memperkuat ketahanan operasional, dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman keamanan yang terus berkembang, termasuk risiko serangan siber terhadap sistem layanan pelabuhan.
“Keamanan pelabuhan saat ini tidak hanya berfokus pada perlindungan fisik fasilitas, tetapi juga mencakup aspek keamanan siber yang memiliki dampak langsung terhadap kelancaran operasional dan rantai pasok,” jelasnya via siaran pers, Selasa (09/06).
Melalui Exercise ini, pihaknya menguji kesiapan personel, efektivitas prosedur, serta memperkuat sinergi dengan regulator dan seluruh pemangku kepentingan, guna memastikan layanan kepada pengguna jasa tetap berjalan secara aman, andal, dan berkelanjutan.
Dalam simulasi tersebut, peserta juga menguji berbagai langkah mitigasi melalui aktivasi prosedur penanganan gangguan, pengaturan arus kendaraan, penguatan pengamanan area terminal, serta penerapan pelayanan secara manual, guna menjaga keberlangsungan layanan kepada pengguna jasa dan meminimalkan dampak terhadap aktivitas logistik.
Pelaksanaan Exercise ini, tegas pihak TPK, menjadi wujud komitmen pihaknya bersama Ditjen Hubla, tim RSO Ditjen Hubla, KSOP, dan aparat keamanan, dalam memperkuat budaya keamanan maritim, dan meningkatkan ketangguhan sistem pelabuhan nasional di tengah meningkatnya tantangan keamanan pada era digital.
Melalui latihan yang dilaksanakan secara berkala, pihak TPK berharap seluruh unsur terkait memiliki kesiapan yang semakin baik dalam mengantisipasi dan menangani berbagai potensi ancaman, sehingga keamanan fasilitas pelabuhan serta kelancaran arus logistik nasional dapat terus terjaga.
Sementara itu, Andi Agussalam selaku Kepala Seksi Penjagaan, Patroli, dan Penyidikan (P3) KSOP mengatakan, Exercise ini menjadi sarana penting untuk memastikan kesiapan seluruh pemangku kepentingan, dalam menghadapi dinamika ancaman keamanan yang terus berkembang.
“Exercise ISPS Code ini tidak hanya menguji prosedur keamanan, tetapi juga memperkuat koordinasi dan sinergi antar-instansi dalam menjaga keamanan fasilitas pelabuhan,” tegasnya.
Dengan kesiapsiagaan yang terbangun melalui latihan secara berkala, Andi berharap, penanganan insiden dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan terkoordinasi sehingga kelancaran operasional dan arus logistik tetap terjaga.
(Ar/Kan)




