Oleh: Huda, S.Pd., S.Pd.
DUKA mendalam menyelimuti kita semua atas tragedi runtuhnya bangunan di Pondok Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo. Di tengah kesedihan, muncul beragam reaksi di ruang publik, terutama saat pimpinan pondok menyebut musibah ini sebagai “takdir”. Sebagian warganet merespons dengan cepat, menafsirkan pernyataan tersebut sebagai bentuk lepas tangan dari tanggung jawab.
Namun, alih-alih terburu-buru menghakimi, mungkin tragedi ini adalah momen bagi kita untuk berhenti sejenak dan mencoba memahami konsep takdir (qada dan qadar) dengan lebih jernih dan berempati, sebagai sebuah pilar keimanan yang kompleks, bukan sekadar dalih untuk kepasrahan.
Dua Wilayah dalam Kehidupan Manusia
Dalam Islam, takdir bukanlah sebuah konsep tunggal yang berarti manusia hanya menjadi wayang tanpa daya. Para ulama, seperti yang dijelaskan dalam buku Peraturan Hidup dalam Islam dan video ceramah Ustadz Abdul Somad, membagi kehidupan manusia dalam dua wilayah yang berbeda terkait takdir.
- Wilayah Pilihan (Ikhtiar): Ini adalah “area yang dikuasai manusia”, yang oleh Ustadz Abdul Somad disebut sebagai mukhayyar (diberi pilihan). Di wilayah ini, manusia dianugerahi akal, ilmu, dan kehendak bebas untuk memilih dan berusaha (ikhtiar). Memilih untuk membangun gedung dengan material terbaik, memastikan konstruksi yang aman, atau sebaliknya, adalah bagian dari wilayah ini. Setiap tindakan dalam area ini akan dimintai pertanggungjawaban. Salah dalam wilayah pilihan ini, seperti menyalahgunakan narkoba lalu menyalahkan takdir, adalah pemahaman yang keliru dan tercela.
- Wilayah Ketetapan (Qada): Ini adalah “area yang menguasai manusia”, yang disebut Ust. Abdul Somad sebagai musayyar (diperjalankan). Di sinilah hal-hal terjadi di luar kendali dan pilihan kita. Di mana kita lahir, dari keluarga siapa, detak jantung kita, hingga musibah tak terduga seperti bencana alam atau kecelakaan mendadak yang terjadi di luar prediksi manusia, masuk dalam wilayah ini. Manusia tidak dimintai pertanggungjawaban atas kejadian di wilayah ini.
Menempatkan Pernyataan Pimpinan Pondok pada Konteksnya
Ketika pimpinan Ponpes Al-Khoziny menyebut tragedi ini sebagai “takdir dari Allah SWT”, pernyataan itu seyogianya tidak dilihat sebagai penolakan tanggung jawab di “wilayah pilihan”. Penyelidikan profesional tentu harus tetap berjalan untuk mengaudit proses pembangunan dan menentukan ada atau tidaknya kelalaian manusia. Itu adalah ranah ikhtiar yang harus dipertanggungjawabkan di dunia.
Namun, pernyataan beliau lebih tepat dipahami sebagai respons seorang hamba di “wilayah ketetapan”. Ketika musibah yang begitu dahsyat—sebuah hasil akhir yang tak pernah diinginkan—telah terjadi dan tak bisa diubah, iman kepada qada menjadi pegangan untuk mencegah jiwa dari kehancuran total. Seperti yang Ustadz Abdul Somad contohkan, orang tua yang anaknya lahir dengan kondisi khusus atau seseorang yang ditinggal wafat mendadak, hanya bisa menemukan ketenangan melalui keyakinan bahwa ini adalah ketetapan-Nya.
Iman kepada qada bukanlah alasan untuk tidak berusaha, melainkan benteng terakhir untuk hati saat semua usaha telah menemui hasil yang berada di luar kuasa manusia. Itu adalah cara untuk mengatakan, “Kami sudah berusaha, tetapi hasil akhirnya adalah kehendak-Mu, dan kami berserah.”
Dari Penghakiman Menuju Empati
Tragedi Al-Khoziny adalah pengingat pahit bagi kita semua. Ada dua sikap yang perlu kita ambil secara bersamaan. Pertama, mendorong adanya investigasi yang tuntas dan transparan sebagai wujud tanggung jawab kita di “wilayah pilihan” untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang. Kedua, menumbuhkan empati dan menahan diri dari penghakiman yang dangkal.
Memahami bahwa pernyataan tentang takdir sering kali lahir dari kedalaman iman seseorang untuk menghadapi kerapuhan hidup, bukan dari niat untuk lari dari tanggung jawab. Saat ini, yang lebih dibutuhkan para korban, keluarga, dan seluruh komunitas pesantren adalah dukungan, bukan hujatan. Mari kita iringi proses pertanggungjawaban di dunia dengan pemahaman mendalam tentang bagaimana iman menopang jiwa manusia di saat-saat tergelapnya.
Banjarmasin, 04 Oktober 2025.
—————————————————————
Disclaimer:
Catatan Redaksi: Tulisan ini adalah opini pribadi penulis, Sdri. Huda, S.Pd., S.Pd. Isi tulisan tidak mencerminkan pandangan dan sikap resmi dari redaksi Banua Connect. Redaksi memuat tulisan ini sebagai bagian dari upaya menjadi platform dialog yang terbuka bagi beragam pemikiran di masyarakat.




